studiopena.com, Jakarta – Indonesia sebagai salah satu produsen tuna terbesar di dunia mempunyai modal strategis untuk memperkuat posisinya di pasar premium internasional. Salah satunya dengan menerapkan cara penangkapan ikan berkelanjutan berbasis kearifan lokal warga maluku yang disebut huhate.
Dorongan untuk menerapkan kembali cara nenek moyang disampaikan Konsorsium Tuna (TC) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) saat memperingati Hari Perikanan Sedunia. Tradisi huhate pada prinsipnya adalah menangkap ikan satu per satu dengan alat pancing, tali pancing, dan kail berumpan.

