Ia melihat banyak anak zaman sekarang yang tidak lagi menatap masa depan dengan semangat yang sama. “Menjadi dewasa sepertinya melelahkan dan membuat stres. Akibatnya, dorongan untuk memiliki impian besar pun melemah.”
Berdasarkan pandangan tersebut, ia mulai memikirkan pentingnya literasi untuk mampu menghidupkan kembali imajinasi anak. Baginya, bangsa yang besar tidak lahir begitu saja, namun terbentuk dari mimpi besar generasi muda.
Oleh karena itu, saya merasa Indonesia perlu kembali memiliki cerita-cerita yang bisa membuat anak-anak berani memimpikan masa depan. Bukan hanya yang realistis, tapi juga masa depan yang penuh kemungkinan, termasuk melalui cerita-cerita sci-fi, fantasi, dan heroisme.
Di situlah pelangi di Mars mulai menemukan bentuknya. Upie mengatakan, film ini dibuat atas keinginan Indonesia untuk memiliki tokoh sentral tersendiri dalam cerita futuristik, ketimbang terus menjadi penonton dalam narasi besar yang didominasi negara lain.
