Site icon studiopena

Anemia bukan hanya sekedar kekurangan darah, tapi penyebab dan faktor risikonya

Anemia bukan sekadar kurang darah, ini penyebab dan faktor risikonya

Jakarta (studiopena.com) – Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang sering ditemui, namun seringkali luput dari perhatian. Banyak orang yang baru menyadari kondisinya ketika tubuhnya mulai mudah lelah, pucat, atau sering pusing tanpa sebab yang jelas.

Sebenarnya anemia bukanlah penyakit tunggal, melainkan suatu kondisi yang bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kekurangan nutrisi hingga gangguan kesehatan tertentu.

Memahami berbagai penyebab anemia dan faktor risiko pemicunya merupakan langkah penting agar kondisi ini dapat dicegah dan ditangani sejak dini sebelum berdampak lebih serius pada kesehatan tubuh.

Berikut penyebab dan faktor risiko anemia berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber.

Penyebab anemia

Anemia adalah suatu kondisi ketika tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat atau kadar hemoglobin di bawah normal. Akibatnya, kemampuan darah dalam mengangkut oksigen menurun sehingga jaringan dan sel tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksemia). Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi fungsi berbagai organ secara keseluruhan.

Secara umum anemia dapat terjadi karena tiga mekanisme utama, yaitu:

• Produksi sel darah merah tidak mencukupi

• Kehilangan banyak darah

• Kerusakan atau kehancuran sel darah merah yang terjadi terlalu cepat

Berdasarkan penyebabnya, berikut beberapa jenis anemia yang paling sering ditemukan.

1. Anemia akibat kekurangan zat besi

Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin (Hb). Penyebabnya bisa jadi karena asupan zat besi dari makanan yang tidak mencukupi, atau gangguan penyerapan zat besi di saluran pencernaan, seperti pada penderita penyakit celiac.

2. Anemia saat hamil

Pada ibu hamil, kadar hemoglobin umumnya sedikit lebih rendah dibandingkan pada wanita yang tidak hamil. Hal ini terjadi karena kebutuhan hemoglobin meningkat selama kehamilan.

Tubuh membutuhkan lebih banyak zat besi, vitamin B12, dan asam folat untuk mendukung pembentukan darah. Jika kebutuhan nutrisi tersebut tidak terpenuhi, dapat terjadi anemia dan berisiko membahayakan kesehatan ibu dan janin.

3. Anemia akibat pendarahan

Anemia juga bisa disebabkan oleh kehilangan darah, baik yang terjadi secara perlahan dalam jangka waktu lama maupun secara tiba-tiba. Kondisi ini bisa dipicu oleh cedera, gangguan menstruasi, wasir, radang lambung, kanker usus besar, atau penggunaan obat-obatan tertentu seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).

Selain itu, anemia akibat pendarahan juga bisa berkaitan dengan infeksi cacing tambang. Parasit ini menghisap darah dari dinding usus sehingga menyebabkan kekurangan darah secara bertahap.

4. Anemia aplastik

Anemia aplastik terjadi ketika sumsum tulang mengalami kerusakan sehingga tidak mampu memproduksi sel darah merah secara optimal. Kondisi ini diduga berkaitan dengan infeksi, penyakit autoimun, paparan bahan kimia beracun, serta efek samping obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik dan obat rheumatoid arthritis.

5. Anemia hemolitik

Anemia jenis ini terjadi ketika sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada pembentukannya. Anemia hemolitik bisa bersifat bawaan atau muncul setelah lahir karena kondisi tertentu, seperti kanker darah, infeksi bakteri atau virus, penyakit autoimun, dan efek samping obat, misalnya parasetamol, penisilin, dan obat antimalaria.

6. Anemia akibat penyakit kronis

Beberapa penyakit jangka panjang dapat mengganggu pembentukan sel darah merah. Contohnya adalah penyakit Crohn, gangguan ginjal, kanker, rheumatoid arthritis, dan infeksi HIV/AIDS.

7. Anemia sel sabit (anemia sel sabit)

Anemia sel sabit disebabkan oleh mutasi genetik yang mempengaruhi struktur hemoglobin. Akibatnya sel darah merah menjadi kaku, lengket, dan berbentuk seperti bulan sabit. Penyakit ini bisa terjadi jika kedua orang tuanya mewarisi gen yang bermutasi.

Jika hanya salah satu orang tua yang membawa mutasi gen tersebut, maka anak tersebut tidak akan menderita anemia sel sabit, melainkan menjadi pembawa dan berpotensi menularkannya kepada keturunannya kelak.

Faktor risiko anemia

Risiko terjadinya anemia bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung jenis dan penyebab yang mendasarinya. Namun, ada sejumlah faktor umum yang diketahui meningkatkan peluang seseorang mengalami anemia.

1. Pola asupan gizi yang tidak seimbang

Kekurangan nutrisi penting seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat dapat menghambat pembentukan sel darah merah. Kondisi ini sering dialami oleh:

• Individu dengan konsumsi daging atau produk hewani yang sangat terbatas

• Mereka yang mengikuti pola makan vegetarian atau vegan tanpa suplemen

• Anak-anak dan remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan pesat

2. Kehilangan darah

Anemia dapat terjadi ketika tubuh kehilangan darah lebih banyak dibandingkan kemampuan tubuh untuk menggantikannya. Hal ini dapat disebabkan oleh:

• Menstruasi dengan volume darah berlebihan

• Pendarahan pada saluran cerna, misalnya akibat sakit maag, wasir, atau kanker usus besar

• Cedera serius atau operasi besar

3. Waktu kehamilan

Pada masa kehamilan, kebutuhan tubuh akan zat besi dan asam folat meningkat untuk menunjang pertumbuhan janin dan meningkatkan volume darah ibu. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, risiko anemia pada ibu hamil akan meningkat.

4. Penyakit kronis

Beberapa penyakit jangka panjang dapat mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah atau mempercepat penghancurannya, studiopena.com lain:

• Penyakit ginjal kronis

• Kanker

• Penyakit autoimun, seperti lupus dan rheumatoid arthritis

• Infeksi kronis, misalnya tuberkulosis (TB) atau HIV

5. Faktor genetik

Jenis anemia tertentu dapat diturunkan dalam keluarga, studiopena.com lain:

• Thalassemia

• Anemia sel sabit

• Sferositosis bersifat herediter

6. Penggunaan obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat diketahui dapat memicu anemia, baik dengan menekan produksi sel darah merah maupun menyebabkan perdarahan, seperti:

• Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)

• Obat pengencer darah (antikoagulan)

• Antibiotik tertentu

7. Faktor usia

Bayi dan anak-anak memiliki kebutuhan zat besi yang tinggi untuk menunjang pertumbuhan, sehingga lebih rentan mengalami anemia. Sedangkan kelompok lansia juga berisiko karena menurunnya produksi sel darah merah dan adanya penyakit penyerta.

Baca juga: Mengenal Anemia dan Gejalanya dari Ringan hingga Berat

Baca juga: Cara Alami Mencegah Anemia dengan Makanan Penambah Darah

Baca juga: Protein hewani mudah diserap tubuh dan membantu tumbuh kembang anak

Reporter: Sean Anggiatheda Sitorus
Redaktur: Alviansyah Pasaribu
Hak Cipta © studiopena.com 2025

Dilarang keras mengambil konten, crawling, atau pengindeksan otomatis AI pada situs ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita studiopena.com.

Exit mobile version