Jakarta (studiopena.com) – Pernahkah Anda merasa bersalah saat mengambil cuti di akhir pekan? Ataukah Anda merasa tertinggal ketika melihat orang lain terus-terusan memamerkan prestasi karyanya di media sosial tanpa henti? Kalau iya, kondisi ini bisa disebut dengan hustle culture.
Istilah hustle culture telah bertransformasi dari tren produktivitas menjadi fenomena sosial yang mengakar di kalangan profesional muda. Dimana budaya ini mendewakan kerja keras yang ekstrim dan memandang waktu luang sebagai sesuatu yang tidak produktif.
Fenomena ini pun menjadi gaya hidup yang memaksa seseorang untuk bekerja lebih keras, lebih lama, dan mengabaikan aspek kehidupan lainnya demi ambisi.
Namun sayangnya, banyak orang yang baru menyadari bahaya dari kondisi ini setelah mengalami burnout yang parah.
Jadi, apa itu budaya hiruk pikuk?
Menurut berbagai sumber, secara etimologis budaya hustle berasal dari istilah “hustle” yang berarti dorongan agresif untuk bergerak lebih cepat.
Dalam ranah psikologi, fenomena ini dikenal dengan sebutan workaholism atau kecanduan kerja, istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh Wayne Oates pada tahun 1971.
Budaya hustle diartikan sebagai gaya hidup yang memaksa individu untuk bekerja dengan intensitas dan kecepatan tinggi hingga melebihi batas kapasitasnya.
Kondisi ini menciptakan lingkungan kerja yang hanya mengedepankan produktivitas dan pencapaian ambisius, namun mengabaikan pentingnya istirahat, kesehatan diri, dan keseimbangan studiopena.com urusan profesional dan kehidupan pribadi.
Seseorang yang terjebak dalam lingkaran ini biasanya kehilangan batasan studiopena.com ruang pribadi dan pekerjaan. Mereka juga biasanya mengabaikan kebutuhan dasar seperti istirahat dan perawatan diri karena menganggap waktu luang merupakan penghambat produktivitas.
Meski sering dianggap sebagai standar emas dalam meniti karir, gaya hidup tanpa istirahat ini dapat memicu stres mental oksidatif yang dapat berujung pada kelelahan, depresi, dan penurunan kualitas kerja dalam jangka panjang.
Dampak buruk dari budaya hiruk pikuk
1. Gangguan psikologis dan kecemasan
Ambisi yang berlebihan seringkali memicu mentalitas tertekan untuk terus tampil sempurna. Jika hal ini tidak tercapai, hal ini akan menjebak individu dalam siklus kekhawatiran dan ketakutan kronis terhadap masa depan kariernya.
2. Rasa bersalah dan standar yang salah
Media sosial juga dapat memperburuk persepsi bahwa istirahat adalah bentuk kemalasan. Akibatnya, perasaan bersalah muncul ketika seseorang berusaha bersantai karena terus-menerus membandingkan dirinya dengan standar produktivitas orang lain yang terkesan tiada henti.
3. Apatis dan hilangnya kepuasan
Mengejar prestasi yang tiada henti bisa membuat seseorang kehilangan rasa puas. Pada titik tertentu, segala pencapaian dirasa belum cukup, sehingga memicu sikap apatis terhadap kehidupan dan merusak kesejahteraan mental.
4. Positivitas toksik
Tolak kegagalan dan harapan yang realistis. Kesalahan kecil dianggap sebagai bencana besar, sehingga individu kehilangan ruang untuk berproses secara manusiawi karena tuntutan optimisme yang dipaksakan.
5. Penurunan kesehatan fisik secara sistemik
Kelelahan kronis akibat kurang tidur dan pola makan yang buruk juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Secara medis, bekerja lebih dari 55 jam per minggu terbukti meningkatkan risiko penyakit kritis seperti depresi, serangan jantung, dan stroke.
6. Ketidakseimbangan prioritas hidup
Fokus yang terobsesi pada karier mengorbankan hubungan sosial dengan keluarga dan teman. Selain itu, hilangnya waktu untuk perawatan diri, seperti olahraga dan meditasi, memperburuk kondisi stres.
7. Mengabaikan sinyal tubuh
Budaya hiruk pikuk membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap rasa lelah. Dengan mengabaikan sinyal fisik untuk terus bekerja, individu sering kali baru menyadari kerusakan kesehatannya ketika hal tersebut mempunyai konsekuensi fatal dalam jangka panjang.
Kerja keras adalah kunci kesuksesan, namun keseimbangan adalah kunci kehidupan berkelanjutan. Oleh karena itu, jangan sampai ambisi mengejar impian membuat Anda kehilangan diri dan kesehatan yang tak ternilai harganya.
Cobalah untuk tetap menetapkan batasan yang sehat, mendengarkan sinyal tubuh, dan memprioritaskan istirahat yang cukup.
Baca juga: Kematangan Emosi Jadi Kunci Kesiapan Orang Tua Cegah Kekerasan Anak
Baca juga: Saat Sekolah Bukan Lagi Rumah Kedua
Baca juga: Langkah Bantuan Psikologis Bagi Penyintas Bencana
Wartawan : Putri Atika Chairulia
Redaktur: Alviansyah Pasaribu
Hak Cipta © studiopena.com 2026
Dilarang keras mengambil konten, crawling, atau pengindeksan otomatis AI pada situs ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita studiopena.com.

