2. Perubahan hormonal
Perubahan keseimbangan hormonal juga diduga berperan dalam munculnya penyakit autoimun. Kondisi ini sering dijumpai pada wanita, misalnya setelah melahirkan.
Situasi seperti kehamilan, persalinan, dan menopause seringkali dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan autoimun sehingga menimbulkan kecurigaan adanya hubungan studiopena.com fluktuasi hormonal dan penyakit ini.
3. Infeksi tertentu
Penyakit autoimun seringkali menunjukkan gejala yang menyerupai infeksi. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena infeksi bakteri atau virus tertentu dapat memperburuk kondisi autoimun atau bahkan memicu respons sistem kekebalan tubuh yang tidak normal.
Salah satu contohnya adalah infeksi virus Epstein-Barr yang diyakini dapat mengubah respons sistem kekebalan tubuh sehingga berpotensi menyerang sel tubuh sendiri.
Baca juga: Gejala yang Patut Diduga Penyakit Lupus
4.Faktor lingkungan
Selain faktor keturunan, lingkungan juga mempunyai peranan penting. Paparan sinar matahari berlebihan, bahan kimia berbahaya, asap rokok, serta infeksi bakteri dan virus tertentu diyakini dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit autoimun.
5. Jenis Kelamin
Data menunjukkan mayoritas penderita penyakit autoimun adalah perempuan. Secara umum, wanita memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pria, hal ini diduga dipengaruhi oleh perbedaan hormon, faktor genetik, dan karakteristik sistem kekebalan tubuh.

