studiopena.com, Jakarta – Elon Musk kembali mendapat masalah. Kali ini, xAI, perusahaan kecerdasan buatan (AI) miliknya, menjadi sorotan setelah chatbot AI Grok kedapatan memproduksi gambar yang mengarah pada seksualisasi anak.
Hal ini terjadi sebagai respons terhadap Grok, chatbot AI xAI, terhadap permintaan pengguna. Sontak pemberitaan ini menuai kecaman luas dari para pengguna platform media sosial X.
Disebutkan, sejumlah postingan yang memperlihatkan gambar anak di bawah umur dengan pakaian minim yang dibuat menggunakan fitur edit gambar Grok telah beredar di timeline X sepanjang masa liburan.
Di salah satu balasan otomatis ke pengguna di
Tak hanya itu, chatbot kebanggaan Elon Musk juga menegaskan bahwa materi pelecehan seksual terhadap anak adalah ilegal dan dilarang keras.
Dalam salah satu balasannya kepada pengguna, Grok memposting pesan yang mengatakan, “perusahaan mungkin menghadapi sanksi pidana atau perdata jika mereka dengan sengaja memfasilitasi atau gagal mencegah konten semacam ini.”
Sayangnya, hal tersebut bukanlah pernyataan resmi dari pihak perusahaan. Namun responnya dilakukan oleh AI chatbot itu sendiri.
Setelah beberapa waktu, staf teknis xAI, Parsa Tajik, mengetahui masalah tersebut. “Hai, terima kasih sudah melapor. Tim sedang mempertimbangkan untuk memperketat keamanan kami lebih lanjut,” tulisnya di X.
Selain mendapat kritik dan kecaman dari pengguna X dan Grok, pejabat di India dan Prancis juga menyoroti kejadian ini. Kabarnya, mereka akan melakukan penyelidikan.
Sementara itu, Komisi Perdagangan Federal (FTC) menolak berkomentar terkait kasus ini.
Beberapa pihak meyakini masalah ini diduga ada kaitannya dengan fitur “Edit Gambar” di X. Fitur ini konon memungkinkan siapa saja mengubah foto yang diunggah pengguna lain melalui perintah teks.
Anehnya, proses pengeditan ini ternyata tidak memerlukan persetujuan dari orang yang mengunggah foto atau gambar aslinya.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Grok mendapat kritik. Pada bulan Mei 2025, chatbot ini melontarkan komentar yang tidak diminta terkait isu “genosida kulit putih” di Afrika Selatan.
Dua bulan kemudian, chatbot xAI kembali menimbulkan masalah ketika memposting komentar anti-Semit dan memuji Adolf Hitler.
Meski berkali-kali menuai kontroversi, perusahaan AI milik Elon Musk mampu menjalin kemitraan strategis. Salah satunya adalah dengan Departemen Pertahanan AS yang mengintegrasikan Grok ke dalam platform agen AI mereka bulan lalu.

