studiopena.com, Jakarta – Seperti perayaan lainnya, Imlek tak lepas dari sejumlah makanan. Salah satunya adalah kue keranjang yang telah menjadi simbol ikonik selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek.
Kue cangkang atau nian gao secara harafiah berarti “kue tahun baru”. Dalam bahasa Mandarin, “nian” berarti tahun, sedangkan “gao” berarti tinggi.
Secara filosofis, nama ini diartikan sebagai harapan peningkatan rejeki, karir, kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Tak heran jika kue ini hampir selalu hadir di meja persembahan atau acara makan keluarga saat perayaan Imlek.
Kue keranjang terkenal dengan rasanya yang manis, teksturnya kenyal, dan lengket. Rasanya yang manis melambangkan doa dan harapan agar kehidupan di tahun baru dipenuhi kebahagiaan dan keberuntungan.
Sedangkan teksturnya yang lengket dipercaya sebagai simbol hubungan kekeluargaan yang erat. Bentuknya yang bulat juga melambangkan keutuhan dan kebersamaan, baik dalam keluarga maupun masyarakat luas, dilansir studiopena.com, Selasa 17 Februari 2026.
Kue ini merupakan simbol harapan akan keharmonisan dan keberlangsungan hubungan antar manusia. Dalam legenda Tiongkok kuno, terdapat kisah makhluk liar bernama Nian yang konon muncul setiap pergantian tahun untuk mengganggu warga desa.
Untuk melindungi diri mereka sendiri, orang-orang mempersembahkan makanan, termasuk nian gao, sebagai bentuk penghormatan, sekaligus harapan untuk menghindari bahaya. Seiring berjalannya waktu, kue keranjang berkembang menjadi simbol keberuntungan dan perlindungan.

