studiopena.com, Jakarta – Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan-perusahaan global, risiko kebocoran data sensitif kini menjadi ancaman nyata yang semakin kompleks.
Menanggapi tantangan ini, F5 memperkenalkan AI Guardrails dan AI Red Team. Kedua solusi keamanan inovatif ini dirancang untuk memperkuat sistem AI perusahaan secara real-time.
Langkah ini menempatkan F5 sebagai vendor pertama yang menyediakan pendekatan end-to-end terhadap keamanan runtime AI.
Fokus utamanya adalah untuk menutup kesenjangan keamanan dalam interaksi agen AI yang sering kali menjadi titik masuk bagi kebocoran data dan manipulasi model.
“Tata kelola perusahaan tradisional tidak mampu mengimbangi kecepatan perkembangan AI,” kata Chief Product Officer F5, Kunal Anand, dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).
Dia menekankan bahwa ketika kebijakan keamanan tertinggal dari adopsi teknologi, kebocoran data dan perilaku model AI yang tidak dapat diprediksi pasti akan terjadi.
Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan AI di sektor korporasi adalah kurangnya transparansi cara kerja model AI atau yang sering disebut dengan sistem black box.
Tanpa pemantauan ketat, model AI berisiko membocorkan data sensitif saat berinteraksi dengan pengguna atau sistem lain.
Sekadar informasi, AI Guardrails hadir sebagai lapisan pertahanan runtime dengan kemampuan untuk:
Mencegah Kebocoran Data: Pastikan data sensitif tidak meninggalkan batas aman perusahaan selama proses input atau output AI. Mitigasi Serangan Cyber: Melawan teknik serangan modern seperti injeksi cepat dan jailbreak yang dirancang untuk mengelabui AI agar membocorkan informasi rahasia. Kepatuhan terhadap Peraturan: Membantu organisasi memenuhi standar ketat seperti Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) dan UU AI UE melalui fitur observasi dan kemampuan audit yang mendalam.

