“Tahun lalu, Tahun Baru Imlek dimulai pada akhir Januari, namun tahun ini jatuh pada pertengahan Februari,” kata Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) saat mempublikasikan data tersebut.
Faktor penurunan lainnya adalah travel warning yang dikeluarkan pemerintah China agar warganya tidak bepergian ke Jepang. Travel warning tersebut kemudian disusul dengan pengurangan frekuensi penerbangan berbagai maskapai Tiongkok ke Jepang.
Sebelumnya, wisatawan Tiongkok merupakan kontributor terbesar, berkontribusi terhadap ledakan pariwisata di negeri bunga sakura dan Gunung Fuji yang didorong oleh lemahnya yen yang membuat belanja menjadi murah. Pada Januari 2026, posisinya digeser oleh wisatawan Korea Selatan dengan jumlah pengunjung 1,2 juta orang atau meningkat 21,6 persen. Pengunjung asal Hong Kong juga turun 17,9 persen.

