studiopena.com, Jakarta – Sesuai prediksi, tindakan China yang ‘memboikot’ kunjungan wisatawan ke Jepang membawa dampak yang signifikan. Untuk pertama kalinya, jumlah kunjungan wisman ke Jepang turun 4,9 persen menjadi 3,597 juta pada Januari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Mengutip AFP, Minggu 22 Februari 2026, jumlah wisatawan asal Tiongkok daratan ke Jepang turun 60,7 persen pada bulan lalu dibandingkan tahun 2025, menurut data yang dirilis Rabu 18 Februari 2026. Jumlah pelancong asal Tiongkok daratan tercatat sebanyak 385.300 orang, turun dibandingkan 980.520 orang pada Januari 2025.
“Tahun lalu, Tahun Baru Imlek dimulai pada akhir Januari, namun tahun ini jatuh pada pertengahan Februari,” kata Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) saat mempublikasikan data tersebut.
Faktor penurunan lainnya adalah travel warning yang dikeluarkan pemerintah China agar warganya tidak bepergian ke Jepang. Travel warning tersebut kemudian disusul dengan pengurangan frekuensi penerbangan berbagai maskapai Tiongkok ke Jepang.
Sebelumnya, wisatawan Tiongkok merupakan kontributor terbesar, berkontribusi terhadap ledakan pariwisata di negeri bunga sakura dan Gunung Fuji yang didorong oleh lemahnya yen yang membuat belanja menjadi murah. Pada Januari 2026, posisinya digeser oleh wisatawan Korea Selatan dengan jumlah pengunjung 1,2 juta orang atau meningkat 21,6 persen. Pengunjung asal Hong Kong juga turun 17,9 persen.
Jumlah wisatawan Tiongkok ke Jepang turun 45 persen pada Desember 2025 menjadi hanya 330.000 orang. Hal ini menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 yang mengindikasikan bahwa Jepang dapat melakukan intervensi militer jika Beijing berusaha merebut Taiwan dengan paksa.

