studiopena.com, Jakarta – Hampir setiap perempuan pasti pernah mengalami momen berdiri lama di depan toilet umum, berpindah dari satu kaki ke kaki lainnya sambil berharap antriannya cepat berpindah. Sementara itu, toilet pria bergerak lebih cepat—masuk, selesai, keluar.
Meski sudah menjadi pemandangan umum, namun banyak yang belum begitu memahami akar permasalahannya. Salah satu penyebab terbesarnya adalah ketimpangan desain studiopena.com toilet perempuan dan laki-laki.
Bilik toilet perempuan memerlukan ruang yang lebih luas karena tertutup sepenuhnya dan dilengkapi dengan fasilitas tambahan seperti tempat sampah sanitasi. Meski kebutuhan ruangnya berbeda, banyak bangunan yang masih menyediakan alokasi yang sama untuk toilet pria dan wanita.
Melansir CNA, 19 November 2025, Jack Sim, pendiri Organisasi Toilet Dunia, menjelaskan konsep toilet parity baru berkembang di Asia pada awal tahun 2000-an. Dia mengatakan peraturan bangunan yang lama tidak memperhitungkan fakta bahwa perempuan menghabiskan lebih banyak waktu di toilet dibandingkan laki-laki.
Hal inilah yang menyebabkan waktu tunggu di toilet wanita menjadi lebih lama. Meskipun pedoman mengenai toilet umum telah diperbaiki dari waktu ke waktu, antrian panjang toilet wanita masih terlihat di pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran.
Alasannya bukan hanya soal desain dasar, tapi juga pertimbangan bisnis pengembangnya. Menurut Jacqueline Pong dari DP Architects, toilet memang memakan tempat, namun tidak termasuk dalam kawasan yang bisa disewa, sehingga tidak menghasilkan pendapatan langsung.

