studiopena.com, Jakarta – Intensitas curah hujan yang tinggi memicu peningkatan bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah kemudian menggunakan modifikasi cuaca sebagai solusinya. Modifikasi cuaca juga dianggap sebagai jalan pintas untuk mengurangi potensi banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan mengatakan, modifikasi cuaca memang bisa menjadi upaya meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi. Namun hal ini hanya bersifat jangka pendek dan belum menyentuh akar permasalahannya.
Modifikasi cuaca penting sebagai upaya mitigasi, namun perlu digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Itu (modifikasi cuaca) tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi, kata Sonni, dalam keterangannya, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurut dia, efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini hanya dapat digunakan jika terdapat awan dengan karakteristik tertentu.
Misalnya pada kondisi cuaca yang banyak awan, modifikasi dilakukan dengan menggabungkan awan yang berdekatan sehingga proses pengendapan atau hujan dapat dipercepat. “Kalau kondisi atmosfer tidak mendukung, otomatis modifikasi cuaca menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,” jelasnya.
Kalaupun kondisi cuaca mendukung, lanjut Sonny, dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu. Hal ini menjadi masalah serius ketika modifikasi cuaca diterapkan pada wilayah yang sangat luas.
“Untuk wilayah yang cukup luas, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan hanya akan membuang-buang anggaran atau hanya membuang-buang dana,” ujarnya.

