studiopena.com, Jakarta – Ada tren baru yang berkembang di kalangan pria. Ada gerakan mengganti celana dalam dan celana dalam dari bahan poliester menjadi bahan organik, seperti katun dan wol. Apa itu?
Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip dari NY Post, Senin 26 Januari 2026, gerakan tersebut rupanya dipicu oleh kekhawatiran akan dampak penggunaan mikroplastik, ‘bahan kimia selamanya’, dan potensinya menyebabkan kemandulan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik—yang paling umum ditemukan di lingkungan, udara, air, dan makanan—dapat membawa polutan ke organ tubuh manusia dan menyebabkan komplikasi kesehatan, seperti kanker, peradangan, masalah kardiovaskular, dan kerusakan sel.
Kekhawatiran ini juga dipicu oleh perbincangan di media sosial dan podcast. Paul Turek, ahli urologi reproduksi dan ahli bedah mikro di California, mengatakan kepada Journal bahwa ‘perbincangan tentang mikroplastik kini sedang berlangsung’. Meski telah menasihati pasiennya untuk mengurangi paparan plastik, Turek mengakui bahwa dia belum melihat penelitian yang memvalidasi kekhawatiran tersebut.
Jaime Knopman, direktur pelestarian kesuburan di CCRM Fertility New York dan penulis buku “Own Your Fertility,” mengatakan kepada Fox News Digital, ‘secara teoritis’, mengenakan pakaian dalam yang ketat dapat menimbulkan risiko kesuburan, tetapi bukan hanya karena bahannya.
“Meskipun mengganti pakaian dalam dapat membantu meningkatkan kesuburan, hal ini jarang menjadi satu-satunya penyebab ketidaksuburan. Pakaian dalam yang ketat dapat meningkatkan suhu testis pria, yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas sperma, sehingga menyebabkan penurunan kesuburan,” katanya.

