Site icon studiopena

Tradisi Huhate ala Maluku, Kunci Emas Indonesia Menuju Pasar Tuna Premium yang Perlu Keberlanjutan

Tradisi Huhate ala Maluku, Kunci Emas Indonesia Menuju Pasar Tuna Premium yang Perlu Keberlanjutan


studiopena.com, Jakarta – Indonesia sebagai salah satu produsen tuna terbesar di dunia mempunyai modal strategis untuk memperkuat posisinya di pasar premium internasional. Salah satunya dengan menerapkan cara penangkapan ikan berkelanjutan berbasis kearifan lokal warga maluku yang disebut huhate.

Dorongan untuk menerapkan kembali cara nenek moyang disampaikan Konsorsium Tuna (TC) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) saat memperingati Hari Perikanan Sedunia. Tradisi huhate pada prinsipnya adalah menangkap ikan satu per satu dengan alat pancing, tali pancing, dan kail berumpan.

Teknik penangkapan ikan satu per satu ini secara langsung berkontribusi terhadap stabilitas populasi tuna sekaligus memastikan kualitas tangkapan yang unggul. Meskipun peralatan yang digunakan sederhana, namun metode ini memiliki efisiensi, selektivitas tinggi, dan minimnya bycatch sehingga memenuhi standar keberlanjutan global.

Permintaan global terhadap tuna yang ditangkap secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, terutama dari pasar utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa, terus tumbuh secara signifikan, diperkirakan mencapai lebih dari 15 persen per tahun. Kondisi ini membuka peluang besar bagi Indonesia.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nilai ekspor tuna Indonesia pada tahun 2022 mencapai USD 680 juta atau sekitar Rp 11 triliun. Namun, potensi untuk meningkatkan nilai ini melalui praktik berkelanjutan jauh lebih besar. Secara khusus, pasar Eropa dan Inggris menunjukkan permintaan yang kuat terhadap tuna yang ditangkap menggunakan metode ramah lingkungan seperti huhate, mencapai lebih dari 26.000 metrik ton (MT).

Exit mobile version