“Kenapa pahlawannya harus orang Amerika, kenapa tidak dari Indonesia? Kita tidak punya role model seperti itu,” jelasnya. Ia ingin anak-anak Indonesia memiliki sosok-sosok yang bisa dilihat, dibayangkan, dan dibanggakan dari negaranya sendiri.
“Jangan hanya tokoh asing yang mendominasi layar kaca dan budaya populer yang menjadi panutan, ada juga yang di dalam negeri. Kita punya komik, tokoh, dan ide masa depan yang cukup meriah,” kata Upie.
Menariknya, alasannya tidak berhenti pada cerita filmnya saja. Upie juga membuat Pelangi di Mars dengan pendekatan produksi berbeda. Dia menggunakan banyak alat digital, mesin permainan, produksi virtual, dan ekosistem Apple untuk menciptakan ruang kreatif yang lebih luas.
