Serabi sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Mataram dan beberapa kali disebutkan dalam Serat Centhini, sebuah teks sastra Jawa yang ditulis pada awal abad ke-19. Dalam catatan tersebut, serabi disebut-sebut sebagai sajian dalam berbagai prosesi adat, mulai dari pernikahan hingga ruwahan. Hal ini menegaskan bahwa serabi bukan sekedar makanan, tetapi juga bagian dari ritual dan simbol budaya Jawa.
Menurut Bondan Winarno (alm), serabi diyakini merupakan hasil pengembangan kue apem yang dipengaruhi kuliner India. Apem yang awalnya lebih padat kemudian berkembang menjadi serabi yang lebih lembut karena penggunaan santan yang lebih banyak. Di Solo, serabi berkembang menjadi jajanan khas yang berkarakter unik, terutama melalui Serabi Notosuman yang melegenda.
Serabi Notosuman mulai dikenal luas ketika pasangan Hoo Gek Hok dan Tan Giok Lan mengembangkan kue apem menjadi serabi pipih pada tahun 1923. Dari sinilah serabi Solo kemudian menjadi identitas kuliner kota Surakarta yang bertahan hingga kini.
Perbedaan Serabi Solo dengan Serabi daerah lain
Serabi Solo memiliki karakter yang cukup berbeda dibandingkan serabi dari daerah lain di Indonesia. Perbedaan paling mencolok terletak pada penyajiannya. Serabi Solo tidak menggunakan kuah santan manis, sedangkan serabi Bandung atau serabi Jawa Barat identik dengan siraman kuah kinca.
Dari segi tekstur, serabi solo cenderung lebih tipis dengan bagian tengahnya lembut dan pinggirannya kering. Sedangkan serabi dari daerah lain biasanya lebih kental dan basah. Cara memasaknya juga berbeda; Serabi tradisional Solo dimasak menggunakan wajan tanah liat di atas arang sehingga menghasilkan aroma khas yang sulit ditiru.
Variasi rasa juga menjadi pembeda. Serabi Solo klasik hanya memiliki dua varian yaitu polos dan ditaburi coklat, demi menjaga identitas rasanya. Berbeda dengan serabi modern yang hadir dengan berbagai topping dan warna.

