Serabi sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Mataram dan beberapa kali disebutkan dalam Serat Centhini, sebuah teks sastra Jawa yang ditulis pada awal abad ke-19. Dalam catatan tersebut, serabi disebut-sebut sebagai sajian dalam berbagai prosesi adat, mulai dari pernikahan hingga ruwahan. Hal ini menegaskan bahwa serabi bukan sekedar makanan, tetapi juga bagian dari ritual dan simbol budaya Jawa.
Menurut Bondan Winarno (alm), serabi diyakini merupakan hasil pengembangan kue apem yang dipengaruhi kuliner India. Apem yang awalnya lebih padat kemudian berkembang menjadi serabi yang lebih lembut karena penggunaan santan yang lebih banyak. Di Solo, serabi berkembang menjadi jajanan khas yang berkarakter unik, terutama melalui Serabi Notosuman yang melegenda.

