studiopena.com, Jakarta – Amazake, minuman tradisional Jepang yang juga dikenal sebagai produk kesehatan dan kecantikan, mudah dicerna dan bebas gluten, sehingga sering disebut “minum infus”.
Melansir BBC, 25 Februari 2026, jika menyusuri jalan panjang dari puncak Fushimi Inari di Kyoto hingga rumah-rumah di bawahnya, banyak warga yang memanfaatkan arus peziarah dengan membuka kafe-kafe kecil di rumahnya.
Di jalanan yang berkelok-kelok, Anda akan menemukan amazake, minuman beras fermentasi ringan non-alkohol, yang menurut petunjuk bahasa Inggris dapat disajikan panas atau dingin.
Minuman super yang lembut dan sedikit manis ini terasa seperti hadiah setelah melakukan perjalanan fisik—seperti kombucha yang memulihkan energi. Namun, yang dibeli dengan harga 400 yen (sekitar Rp 43 ribu) lebih dari sekedar minuman.
Seteguk amazake adalah bagian dari sejarah kuliner Jepang, yang menyimpan warisan cita rasa dan tradisi yang telah diwariskan selama berabad-abad. Amazake pertama kali dikembangkan pada zaman Kofun, sekitar tahun 250–538 Masehi.
Awalnya minuman ini lahir dari teknik fermentasi dan pengawetan makanan menggunakan campuran beras, air dan koji, jamur berserabut yang juga digunakan untuk membuat miso, natto, dan kecap. Campuran tersebut direbus selama delapan hingga sepuluh jam, menghasilkan minuman yang kaya nutrisi dan bakteri baik untuk pencernaan.
Popularitas amazake begitu besar sehingga tercatat dalam Nihon Shoki, teks sejarah resmi tertua di Jepang, yang disusun pada tahun 720 Masehi. Seiring berjalannya waktu, minuman ini mengalami naik turun.

