studiopena.com, Jakarta – Bali, yang telah dipenuhi dengan wisatawan dan juga untuk sektor pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (tikus), sekarang dilaporkan mengalami pukulan besar karena kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Pemotongan besar -besaran pada anggaran perjalanan resmi dan implementasi acara di Star Hotels telah membuat industri ini tersandung.
Wisatawan yang datang ke Bali, terutama wisatawan asing (wisatawan) masih cukup banyak. Tetapi mayoritas dari mereka berasal dari segmen rendah rendah yang lebih suka tinggal di villa wisma pribadi, atau apartemen. Akibatnya, hotel bintang kehilangan banyak pelanggan, terutama dari sektor tikus.
Dampak efisiensi ini tidak hanya terjadi di Bali, tetapi di hampir semua kota besar di Indonesia. Ini diakui oleh Wakil Ketua Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia (Phri) Maulana Yusran.